Ubaidillah. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

HAKIKAT PUASA


Bulan ramadlan merupkana bulan dimana seluruh ummat islam di dunia diwajibkan untuk melaksankan puasa, puasa secara bahasa adalah al imsaksaku yaitu mengekang sedangkan menuraut syara’ puasa mempunyai arti menahan dari hal-hal yang dapat membatalkan pusa dengan syarat dan rukun yang talh ditentukan dari terbit fajar sampaiterbenam matahari dengan niat berpuasa. Untuk postingan kali saya tdak akan membahas teantang syarat dan rukun puasa tapi saya akan sedikit ingin membagikan sedikit ilmu titipan ilahi tentang puasa hakiakat puasa di bulan Ramadlan.
Puasa merupakan kewajiban bagi setiap orang mukmin sesuai dengan frman Allah SWT dalam surat al Baqarah ayat 183
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”,
Dalam ayat di atas menyebutkan “Ya Ayyuhalladzina Aamanu” bukan “Ya Ayyuhannas”, bukan pula “Ya Ayyuhalladzina Aslamu”, ini menunjukkan bahwa yang dapat melaksanakan puasa dengan benar adalah hanya orang-orang yang beriman saja bukan hanya orang yang islam melainkan orang yang memiliki iman di dalam hatinya. Karena ibdah puasa merupakan ibadah yang tidak diketahui oleh manusia,dalam artian hanya Allah yang tahu apakah seseorang itu melaksanakan puasa atau tidak. Lain halnya dangan shalat, apabila seseorang melaksanakan shalat maka orang lain dapat mengetahuinya apakah dia shalat atau tidak, misalnya shalat berjama’ah apabila dia tidak ada dalam suatu shalat tersebut maka orang laian dapat mengetahuinya bahwa dia tadak shalat jama’ah.
Beda halnya dengan puasa, apabila seseorang berpuasa maka orang lain tadak akan mengetahui apakah dia berpuasa atau tidak, mungkin seseorang hanya menebak-nebak saja. Mentang-mentang karena bibirnya kering dan badannya tampak lemas sudah divonis sudah berpuasa, padahal tidak.
Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum tetapi juga menahan diri dari segala sesuatu yang bisa menghalangi sahnya ibadah puasa itu sendiri dan juga dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa. Adapun hikmah dari puasaadlah sebagai beriku:
1.      Ibadah puasa membersihkan jiwa kita dengan melaksanakan semua perinatah Allahdan menjauhi segala larangan Nya, serta melatih untuk melaksanakan semua ibadah dengan sempurna, walaupun yang demikian itu mengharuskannya meninggalkan kemauan-kemauan hawa nafsunya. (ust. Segaf Hasan Baharun)
2.      Ibadah puasa melatih jiwa kita unuk selalu mengedepankan ridla Allah SWT. dan melatihnya untuk bersabar, diamana kita mempunyai keinginan-keinginan yang timbul dari hawa nafsu, akan tetapi kita bersabar untuk mengekangnya, sehingga dengan kesabaran, kita mengekang hawa nafsu dengan berpuasa akan bermanfaat untuk kebersiahan hati kita. (ust. Segaf Hasan Baharun)
3.      Ibadah puasa dapat meredam nafsu seks manusia.
4.      Ibadah puasa melatih kita untuk selalu bersyukur akan nikmat-nikmat Allah karenabiasanya seseorang akan mensyukuri suatu nikmat setelah tiada. (ust. Segaf Hasan Baharun)
5.      Ibadah puasa memberi tahu kita penderitaan orng miskin, dimana kita diperintahkan untuk berpuasa dalam waktu-waktu tertentu, untuk ikut merasakan penderitaan yangn dialami oleh orang-orang miskin yang hamper setiap hari mereka mersakan hal itu, sehingga timbul rasa iba kita untuk membantu mereka. (ust. Segaf Hasan Baharun)
6.       Ibadah puasa menjaga kesehatan badan kita, dimana ilmu kedokteran membuktikan bahwa di dalam perut kita ada baksil-baksil yang tidak akan mati kecuali dengan puasa, sehingga setelah berpuasa sebulan akan mati semua baksil dan tahan smpai tahun berikutnya. (ust. Segaf Hasan Baharun)
7.      Ibadah puasa di bulan Ramadlan adalah merupakankesempatan emas untuk umat Raslullah Saw dalam mengumpulkan banyak pahala, dimana pada bulan itu terdapat Lailatul Qadar, suatu malam yang lebih baik dari malam seribu bulan,  (ust. Segaf Hasan Baharun)
sebagaimana firman Allah 
“malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kontribusi Psikologi terhadap Pendidikan


Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung.
Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :
1.      Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.
2.      Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.
3.      Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)
4.      Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.
5.      Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.
6.      Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan
Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari psikologi.
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.
Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya,–terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya–, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.
Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”.
Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif.
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
6, Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
7. Menilai hasil pembelajaran yang adil.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.
1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum.
Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana in put, proses dan out pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.
Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya.
Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek: (1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar (learning outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa
2. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran
Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti : teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.
Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :
1.    Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan
2.    Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.
3.    Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
4.    Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
5.    Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.
6.    Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.

7.    Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.
8.    Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
9.    Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.
10  Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
11  Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
12  Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
13  Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.
3. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian
Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.
Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya.
Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.
Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MELATIH OTAK BRRFIKIR EFEKTIF DAN KREATIF

Syahdan, sebuah leleng tengkorak manusia. Disitu dilelang tengkorak manusia dari berbagai belahan Negara di dunia. Salah satunya adalah tengkorak manusia asli orng Indonesia. Dari sekian banyak tengkorakk manusia, ternyata tengkorak orang indonisialah yang memiliki daya tarik dan harga jual tertinggi jika dibandingkan dengan dengan Negara lain, seperti amerika, Israil, Jepang, dan Negara maju lainnya. Selidik punya selidik, ternyata maha;nya tengkorak manusia Indonesia karena masih orisinil. Tengkorak kepala (otaknya) orang Indonesia masih jarang dipakai, jarang diberdayakan. Berbeda jauh dengan kepala (otak) dari warga Negara lain yang sudah aus karena banyak digunakan  selama hidupnya. Jadi tengkorak kita memiliki nilai jual yang sangat fantastik karena masih orisinil.
            Anekdot di atas memberi kita pelajran berharga bahwa sesungguhnya Allah SWT memberi kita anugrah terbesar berupa otak yang ditaruh di kepala kita tidak untuk dibuat pajangan saja, melainkan kita gunakan semaksimal munagkin. Dieksplorasi secara maksimal untuk menghasilkan karya bermakna bagi kehidupan.
            Toni Buzan da;am bukunya use your head mengibaratkan otak kita laksana raksasa tidur. Raksasa adalah sosok makhluk yang sangat kuat dan digdaya. Kedigdayaannya tregambar secara apik dari bagaimana mereka (raksasa) memiliki tubuh yang besar dan kuat. Besarny ukuran tubuh dan kekuatan yang dilahirkannya menyebabkan ia mampu melakuakn yang dinilai mustahil oleh manusia. Membendung sungai, mencabut pohon besar, merobohkan gedung adalah sebagian kecil ganbaran kakuatan dan kemampuan raksasa itu.
            Ternyata kedigdayaan raksasa hanya mampu ditandingi oleh kehebatan otak kita. Otak kita yang besarnya sekepalan tangan mampu melakukan tugas-tugas berat melampui kekuatan sang raksasa tadi. Dan salah satu kedigdayaan otak adalah mampu berfikir efektif dan kreatif. Dari kreativitasalah kemudian muncul pesawat terbang, mobil, computer, TV, HP dan masih banyak buatan manusia yang tidak mungkin bias dilakuakan oleh raksasa tadi. Betapa besar manfaat berfikir efektif dan kretif dalam kehidupan kita ini. Syang sekali jika otak kita yang luar biasa itu dibiarkan trelalap dalam tidurnya.
            Serin kali potensi kreativitas pupus begitu saja oleh “mal praktek” pembelajaran diruang-ruang kelas. Tanpa disadari banyak praktek pembelajaran yang justru yang melemahkan kreativitas anak. Kita ambil contoh yabg sangat sederhana dalam hal penilaian. Penulis pernah soal yang berbunyi “jendela terbuat dari….?”. di soal tersebut disediakan 4 jawabannya. Salah satu jawban itu adalah kayu. Kebetulan seorang peserta didik menjawab jawaban lainya (besi). Alhasil, jawban tersebut disalahkan karena bagi guru jawaban yanh benar adalah kayu. Padahal saat ini, jendela bias terbuat dari ap saja, tidsk hanya kayu, jendela juga besi, logam, beton, bahkan sampah. Dalam konteks ini soal tadi telah memungkinkan murid berfikir terlalu konvergen. Karenanya kemudian Disraeli, mantan perdana mentri inggris berujar “he had only one idea, and that was wrong”.
            Gaya pengembangan pola pikir yang konvergen juga mendorong anak tidak memiliki kelenturan dalam berfikir. Gaya berfikirnya terlalu motoris, rigid dan seragam. Kreativitas berfikir menjadi suatu keniscayaan mengingat telah terjadi penyeragaman jawaban atas fenomena yang dihadirkan. Anak dihadapkan pada pilihan-[ilihan yang tetap, pada alternative-alternatif yang baku.
            Kondisi di atas juga melamahkan oleh aktivitas di ruang-ruang kelas yang terlalu menoton. Anak “dipaksa” duduk rapi berjajar selama berjam-jam mendengarkan guru mencurhkan ilmu di kepala mereka. Kondisi ini dapat divisualisasikan laksana seseorang menuangkan air kedalam gelas kosong hingga airnya melabur dan mubazir. Proses pembelajaran ini telah memungkian anak serasa berada dalam dunia lain. Apa yang dihadapi di dalam kelas berbanding terbalik dengan kenyataan yang dialaminya. Kegembiraan, warna-warni kehidupan tidak lagi ia temukan di ruang-ruang kelas. Yang ada hanyalah buku catatan, papan tulis monocrom dan sederet perinteh dan larangan yang harus ditaati sebagai murid. Pekerjaan rutin yang mereka hadapi tiap hari menjadi musuh otak yang paling berbahaya. Kondisi ini akan hanya melahirkan strees.
            Monotonisasi ini menyebabkan peserta didik tertekan secara psikis. Tekanan psikis ini kemudian berpengaruh terhadap aktivitas belajarnya. Mereka cenderung menjadi kurang percaya diri, takut salah dan takut dibuat cemoohan sesame murid karena ketidak mampuannya. Karenanya dibutuhkan kreativitas untuk merangsang otk bekerja secara maksimal.
            Kreatif memiliki beberapa kata kunci (key words) yang memudahkan kita dalam mengembangkannya. Kreatif yang megacu pada bagaimana kita memandang persoalan dari sudut pandang yang berbeda dari biasnaya (out the box). Disamping itu, kreatifitas juga akan mendorong seseorng untuk menerima gagasan baru yang tidak umum sekalipun. Bahkan kita sering “melanggar aturan” dan yang terpenting adalah bahwa kretivitas itu adalah proses konstruksi ide orisinal dan bermanfaat.
            Melanggar aturan adalah salah satu metode yamg banyak digunakan untuk mengembangkan kreativitas itu. Slah satunya adalah Albert Einstein, ia dibesarkan dengan perasaan tidak senang kepada aturan-aturan yang tidak masuk akal. Salah satunya adalah khayalan Einstein tentang fenomena fisik sambil menunggangi seberkas cahaya. Pelanggaran aturan ini telah memungkinkan dia mengidentifikasi dan melanggar aturan kunci yang telah menghalangi ahki fisika untuk menemukan teori relativitas. Akhirnya “pelanggarannya” menghasilkan teori relativitas itu.
            Melanggar aturan adalah salah satu jalan yang digunakan untuk memicu munculnya kreativitas. Sebagai pendidik kita memiliki kesempatan yang sangat luas untuk membangun kreativitas anak didik kita. Salah satu cara melakukannya adalah : pertama, Be A Role Model. Jadikan diri kita sebagai model dan biarkan anak didik kita melihat dan melakukannya. Bagaimana kita menghadirkan sebuah pelajaran dan bagaimana pula kita mengemasnya adlah bagian dari model itu. Mari kita berikan ruang yang cukup luas bagi anak didik untuk mengeksplorasi keilmuan yang mereka dapatkan. Jika kita tidak mengasah kreatifitasnya, maka mita berarti hanya akan menginginkan karakter mereka terbentuk tanpa kreativitas.
            Kedua, Build Self Efficacy, pada tahap ini kita beri anak didik kita ruang untuk menumbuhkan rasa percay dirinya dengan mencoba hal-hal yang baru. Rasa percaya akan kemampuan mereka kita jadikan sebagai pondasi yang kokoh bagi konstruksi pengetahuan mereka. Ajarkan kepada setiap anak didik untuk berani melakukan dan berani mempertanggung jawabkan sesuatu yang ia lakukan. Kesempatan ini akan menjadi modal berharga dalam membangun ras percaya dirinya. Apresiasi dan selebrasi atas kemampuannya mnjadi unsure penting dalam kegiatan selanjutnya.
            Ketiga, Question Assumptions. Kita harus belajar mengidentifikasi semua potensi yang mereka miliki. Potensi itu harus kita katalisasi agar bias maksimal. Dan jika dimukan kelamahan, maka beradalah dibelakangnya untuk terus mendorong dam memotivasi agar meraka terus mencoba dan melakukan hal-hal yang baru.
            Jika penyampaian kreatuvitas itu sudah kta lakukan, maka langkah selanjutnya dalah bagaiman mengembangkannya hiangga optimal. Pengambanga kreativitas bias dilakukan dengan berbagai cara. Yang terpenting adalah adanya kesempatan bagi kreativitas untuk menjadi lebih “gila”. Kita harus menanamkan semangat kepada anak didik kita untuk selalu menjadi penjelajah pikiran dengan terus bersikap terbuka atas ide-ide baru. Dan yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengembangkan gagasan-gagasan baru sebanyak mungkin. Karena untuk menghasilkan ide yang baik, membutuhkan lahirnya banyak ide-ide baru (the best way to get good ideas is to get a lot of ideas).
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS